Beauty Only Skin Deep
Banyak orang melihat sesuatu hanya dari penampakannya saja, hanya dari yang tampak mata saja. Padahal tubuh manusia hanyalah alat untuk berjalan di dunia ini. Manusia adalah apa yang dipikirkannya dan apa yang dilakukannya. Menilai manusia tidak bisa dari cantik atau jeleknya paras seseorang. Tidak semua orang cantik baik dan tidak semua orang jelek jahat. Presepsi salah ini sudah terpola sejak kita kecil lewat film di televisi. Orang baik selalu diperankan oleh sosok cantik dan orang jahat biasanya buruk mukanya.
‘Beauty only skin deep’ atau kecantikan hanya sebatas kulit saja. Memang bukan sekedar pepatah karena memang begitulah kebenarannya. Kalau saja semua manusia dikuliti hingga yang terlihat hanya otat dan uratnya saja (bukan bermaksud terlihat sadis, tapi dari segi medis hal ini lumrah), maka semua manusia akan terlihat sama. Maka, apa yang mau disombongkan??!!!
Subhanallah, Maha Suci Allah yang memberikan bentuk rupa pada manusia dengan sempurna. Wajah yang cantik atau tampan sepatutnya memuji Allah, Pembentuk rupa manusia. Tidak sepatutnya orang menghargai apalagi mencintai orang lain hanya karena berwajah cantik/tampan, tapi hargailah karena ia makhluk ciptaan Allah swt., dan seperti kata teman saya bilang (mr.Andry) “hargailah seseorang seperti kita ingin dihargainya”.
Serba Instant
Orang Indonesia menyukai segala sesuatu yg berbau instan, mulai dari menjadi artis instan, penyanyi instan, bikin KTP instan (biar bayar mahalan dikit yang penting cepat selesai. Hal ini artinya memupuk subur lahan korupsi para pegawai kelurahan yang semua orang udah tau-padahal seharusnya image menjadi pelayan public menjadi kebanggaan, namun banyak yang baru mau bekerja setelah ada uang pelicinnya. Bukannya pemerintah sudah menggaji mereka untuk pekerjaan yang mereka lakukan?!); proses hukum instan (orang mending bayar mahal krn gak pake helm daripada ikut sidang; udah gitu ngedumel dibelakang bilang polisinya yg cari duit padahal helm dipake bukan kalo ada polisi tapi untuk keselamatan diri.-orang Indonesia masih belum banyak ngerti esensi kenapa suatu hukum atau peraturan diberlakukan-yang banyak bisanya cuma protes mulu tanpa solusi yg berarti-namanya juga anak baru gede! Itu baru dari kalangan rakyat bisaa; dari kalangan kelas kakap banyak yang lolos hukuman krn bisa menebus kesalahannya lewat selembar cek. Kalau sudah begitu kesalahan apapun akan termaafkan dimata hukum, sekarang yang dilihat adalah besar rupiahnya bukan lagi benar salahnya, toh benar salah bisa di sesuaikan dengan kebutuhan?!).
sampe makanan instan seperti mie instan yg sering dan digemari anak2 padahal nilai gizinya rendah dan bahan pengawet dan penyedapnya gak bagus buat kesehatan kalo terlalu banyak dikonsumsi; makanan sepat saji instan yg tinggi kalori dan lemak, rendah gizi juga menjadi makanan popular. Sampe2 ada juga bikin ijasah instan yang penting sanggup membayar seperti yang diminta. Kalo ijasah aja udah dibikin instan tanpa melewati proses pembelajaran yang justru merupakan inti dari bersekolah atau kuliah, maka apa yang bisa diharapkan dari orang seperti ini?! Bagaimana kalo yang seperti ini terjadi justru oleh seorang pemimpin (beberapa saat yang lalu berita di tv menyebutkan bahwa ada kepala daerah yang di demo warganya krn ijasah palsu).bagaimana nasib warga dan daerahnya jika pemimpinnya saja seorang tukang palsu?
Mari jalani dan nikmati proses kehidupan ini. Kehidupan adalah rangkaian ‘proses’ dan perjalanan ( a journey). Gak asyik kan kalo manusia lahir ke dunia lalu langsung mau ke endingnya aja?!
Bahkan Debu pun Punya Arti

Pemantulan Baur
Apakah arti kehadiran kita, manusia di dunia ini? Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan pasti ada tujuannya. kadang kita tidak memikirkan atau bahkan tidak perduli mengenai kebermaknaan ita dan hal-hal yang ada disekitar kita. kalau saja kita mau melihat lebih jauh, tidak ada yang tidak punya arti yang ada di dunia ini.
Debu, yang sering kita anggap sebagai hal tidak berguna dan tidak ada artinya ternyata punya peran sangat besar bagi manusia di bumi ini. Debu membantu manusia sehingga bisa melihat keadaaan di dalam ruangan tanpa adanya lampu pada siang hari. jika saja tidak ada debu di dunia ini, maka setiap benda akan memberikan pantulan yang tegak lurus dengan arah datangnya cahaya (Hukum Snellius). itu artinya ruangan di dalam kelas pada siang hari tidak akan dapat terlihat jika tidak ada cahaya lampu. Debu membantu terjadinya proses yang dinamakan pemantulan baur. Debu memantulkan cahaya matahari ke segala arah sehingga seluruh daerah disekitarnya tampak terang. Bayangkan, berapa banyak energi listrik harus dihabiskan untuk penerangan ruangan disiang hari jika tidak ada debu?

Efek Tyndal pada Pemantulan Baur
Sungguh, Tuhan menciptakan sesuatu tidak dengan sia-sia. semua yang diciptakan-Nya pastilah ada makna dan tujuannya.
Ternyata, debu yang sering kita sia-siakan dan tak pernah kita anggap ini saja punya peran sangat berarti bagi banyak manusia selama jutaan tahun lamanya. Lalu, bagaimanakah peran kita yang katanya sebagai khalifah di bumi ini?
Sudahkah kita mempunyai arti bagi bumi ini dan orang lain??
-
Archives
- May 2009 (2)
- April 2009 (4)
- March 2009 (2)
- February 2009 (10)
- January 2009 (1)
- December 2008 (2)
- May 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS






