Nursarifahainy’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Benarkah kita Indonesia Negara kaya?

Indonesia adalah Negara kaya sumber daya alam dan kaya potensi sumber daya manusia, sayangnya untuk sumber daya manusia baru Cuma potensi belum banyak diberdayakan.benarkah demikian? Masalahnya banyak masyarakat yang merasa cukup sampai disini saja perjuangan mereka, cukup hidup seperti ini saja, yang penting bias makan dan terus melanjutkan hidup. Toh, buat makan saja susah, apalagi mikirin yang lain. Bermimpi atau mempunyai harapan sering dilupakan oleh sebagian besar orang saat mereka pikir sudah ‘mentok. Mentok pendidikan, mentok biaya dsb. Keinginan hanya tinggal keingginan. Cita-cita waktu kecil ingin menjadi dokter atau insinyur terpakta kandas oleh ketiadaan biaya pendidikan. Dan itu sengaja dijadikan alasan paling rasional bagi mereka yang tidak kesampaian cita-citanya.

Fosil Manusia Purba

Fosil Manusia Purba

Indonesia yang kaya sumber daya alam akan menjadi tak banyak berguna, karena masyarakatnya tidak menyadari kalau sebetulnya kita itu kaya. Yang menyadari adalah para pendatang dari luar negeri. Mereka berdatangan ke Indonesia untuk melakukan penelitian dan menjadi ilmuan terkemuka setelah kembali ke nagaranya, seperti Eugine Dobois penemu manusia purba. Justru yang membuatnya terkenal adalah orang Indonesia, yang membantu menggali peninggalan purbakala. Kenapa tidak orang Indonesia saja yang menemukan dan memperoleh hak paten atas penemuannya? Kenapa bias begitu?? Karena ketiadaan ilmu, karena kurang wawasan dan pendidikan. Karena orang Indonesia tidak tahu kalau peninggalan sejarah nenek moyang mereka berharga, bahkan sangat berharga sehingga seseorang dapat mendapatkan hadiah nobel dan bahkan keuntungan financial dengan angka ratuan juta dolar atau lebih. Tapi, manusia Indonesia cukup puas dengan diberikan satu juta rupiah, padahal nilai sesungguhnya mungkin tak terhingga bagi khasanah budaya Indonesia. Toh, pemerintah Indonesia tidak mau peduli atau memperhatikan warga penemu peninggalan sejarah ini, kalau pun dibayar pastilah sangat jauh berbeda dengan harga yang ditawarkan pembeli yang berasal dari luar negeri, maka tentulah otak ekonomi mereka berjalan, lalu siapa yang mau disalahkan? Mereka tidak memiliki pekerjaan yang layak untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, untuk makan anak dan istri mereka sedangkan sebagian besar mengandalkan penghasilan dari menggali barang purbakala. Boro-boro mikirin cagar budaya yang harus dilestarikan bila perut mereka terus saja berteriak-teriak minta makan, kebutuhan dasar manusia perlu dicukupi terlebih dahulu baru hal yang lainnya

Pegunungan yang Rusak Akibat Penambangan P.T.Freeport

Pegunungan yang Rusak Akibat Penambangan P.T.Freeport

Indonesia kaya sumber daya tambang, misalnya di irian jaya, namun sayangnya emas dan tembaga itu beramai-ramai digotong oleh orang asing kenegaranya. Dan bangsa Indonesia hanya bias bilang, “monggo, pak.” Rakyat disekitar PT.Freeport hanya mendapat sisa-sisanya saja, itupun harus berjuang diantara bahan limbah berbahaya hasil buangan dari PT. pengeruk raksasa itu. Dan bagaimanakah peran pemerintah Indonesia? Mengapa orang asing mengeruk emas di bumi Indonesia dan dibiarkan saja? Alasannya sudah terikat kontrak, dan tahukah Anda bahwa pajak PT. Freeport adalah yang terbesar di Indonesia. Karena itu pemerintah membiarkan saja aktivitas perusahaan itu disana. Bayangkan saja, bila pajaknya saja paling besar se Indonesia, bagaimana dengan penghasilan bersihnya? Itu pun PT.Freeport tidak transparan mengenai berapa penghasilan bersih mereka. Dan, coba tebak kemanakah aliran dana pajaknya? Tentu saja ke pemerintah pusat. Hal ini sudah membuat mereka tenang dan tidak akan mempersoalkan bangsa Indonesia yang dizalimi.

Kerusakan Ekosistem Akibat Penambangan P.T.Freeport

Kerusakan Ekosistem Akibat Penambangan P.T.Freeport

Masyarakat di daerah sekitar PT.Freeport justru berbanding terbalik 180 derajat dengan pegawai-pegawainya yang sebagian besar orang asing dan pendatang dari pulau lain yang lebih makmur. Penduduk sekitar sebagian besar masih primitive, walau sudah pakai baju dan celana namun setidaknya pemikiran mereka masih begitu, tingkat pendidikan masyarakat sekitar masih rendah dan penghasilan pun minim karena sebagian besar hanya mengandalkan mendulang emas di kawasan pembuangan limbah. Dimana setiap hari mereka terpapar dengan zat kimia berbahaya yang bias menyebabkan penyakit bahkan mengancam nyawa mereka, namun mau bagaimana lagi jika mereka tidak tahu bagaimana cara mempertahankan hidup. Hutan dan gunung mereka tempat mereka mencari makan telah berubah menjadi gundukan dan hamparan pasir. Hanya ada pasir dan pasir. Alam menjadi rusak dan tidak dapat menghasilkan makanan seperti orangtua mereka dulu mendapatkan makanan dari alam. Mereka didesak oleh munculnya masyarakat dari dunia baru yang membawa teknologi untuk mengeruk dan membawa kekayaan alam mereka, namun tak ada yang bias mereka lakukan kecuali menonton semua itu berlangsung, -sampai sekarang. Pemerintah tidak banyak membantu karena seolah tutup mata. Atas banyaknya kritikan, PT.Freeport sekarang mendirikan sekolah dan balai pengobatan untuk masyarakat sekitar agar masyarakat berpikir betapa baiknya mereka. Tidakkah mereka berpikir jika orang-orang Irian sendiri yang mengolah hasil kekayaan alam mereka, betapa banyak yang bias dihasilkan, betapa banyak yang bias mereka peroleh. Mereka bias hidup layak sekarang, dan bias membangun satu juta sekolah dan balai pengobatan yang jauh, jauh lebih baik dari yang orang-orang luar negeri itu berikan. Haruskah rakyat Indonesia merana di tanahnya sendiri?

Indonesia penuh dengan orang kaya terutama di Jakarta, jantung ibukota Indonesia karena disaat krisis begini penjualan mobil mewah tetap saja laku. Tetapi, Indonesia lebih penuh dengan orang miskin karena mau beli sembako saja mikir dulu karena harus dibagi dengan keperluan yang lain, atau mengorbankan keperluan yang lain, padahal kita tahu kalau sembako adalah kebutuhan dasar manusia, yaitu makan-bisa bertahan hidup. Banyak yang untuk makan saja susah karena penghasilan minim. Penghasilan minim karena tidak punya pendidikan, tidak punya skill, sehingga yang bias dilakukan hanya kerja serabutan. Namun era teknologi terus merambah daerah-daerah di Indonesia. Bahkan Internet saja sudah masuk desa. Kalau terus tidak punya skill untuk bertahan hidup, apalagi di kota besar seperti Jakarta, maka bakalan terlindas oleh para pesaing dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Kalau melihat acara di tv “Andai Aku Menjadi” banyak orang Indonesia yang harus bertahan hidup dengan menjadi kuli angkut yang memeras tenaga namun dibayar sangat rendah. Kerja otot seharian yang sangat payah dengan resiko jatuh dan kesleo paling Cuma dibayar 30rb seharian. Belum makan dan kebutuhan yang lainnya, bagaimana kalau sakit? Tidak ada dana cadangan untuk pengobatan. Karena itu mereka harus tetap sehat supaya tidak usah keluar ongkos ke dokter yang mungkin harus berhutang dulu. Atau, cerita sepasang kakek dan nenek yang tinggal sebatang kara di suatu desa terpencil. Mereka tidak punya apa-apa dan tidak punya sesuatu sebagai penghasil tetap. Namun, sisi kreatif walau terbatas masih ada. Memungut kaleng bekas susu kemudian dijadikan parutan oleh sang kakek dan dijajakan keliling kampung oleh sang nenek. Satu hari hanya bias menjual dua buah parutan, harganya lima ribu satu buahnya. Itupun kadang di bayar dengan beras. Dan tubuh nenek yang renta masih dengan tegapnya menyusuri jalan-jalan desa untuk menjual parutan yang tinggal satu. Jika sore menjelang dan belum ada yang mau beli, maka mereka terpaksa pulang dengan tangan kosong. Tidak setiap hari berjualan, terkadang kakek membuat pesanan membuat pacul dengan harga 15 ribu perbuah, dan hal lain yang nenek lakukan adalah mengumpulkan kotoran kambing untuk pupuk, satu plastic besarnya Cuma dihargai 3 ribu rupiah. Bayangkan, apakah cukup untuk makan? Kadang-kadang mereka harus menahan lapar, seharian tidak makan. Kadang tetangga mereka berbaik hati memberikan mereka makanan. Dan makanan satu piring dari tetangga nya itu dimakan berdua oleh mereka setelah separuhnya disisihkan untuk makan nanti malam atau esok hari. Besok bias makan atau tidak mereka belum tahu? Namun, diusia yang renta mereka tak kalah dan tak mau kalah dengan nasib. Mereka berjuang tak kenal lelah seperti orang muda, bahkan orang-orang muda mungkin kalah dengan semangan hidup mereka.

Indonesia banyak pemudanya, namun banyak pemuda yang hanya ongkang-ongkang kaki, diatas kekayaan orang tua mereka? Atau menggunakan waktu tidak berguna seperti nongkrong di mall yang banyak dilakoni justru oleh sebagian besar pelajar, terutama dikota-kota besar. Sungguh fenomena menyedihkan. Bagaimana nasib bangsa mau lebih baik kalau pemudanya mengahabiskan waktu bukan untuk mencari inovasi baru, terobosan baru, penemuan baru mengenai cara yang lebih efisien dalam menyelesaikan pekerjaan,- melainkan untuk spent time, hang out, atau pacaran. Silakan surver dari masyarakat disekitar Anda mana yang lebih banyak, berpikir tentang inovasi baru atau menikmati inovasi baru? Masyarakat Indonesia telah terbiasa menjadi penikmat, menjadi konsumen, menjadi pemakai, menjadi pembeli. Indonesia menghasilkan kayu, lalu dijual ke luar negeri, disana diproses menjadi furniture super deluxe dengan harga tinggi, dan untuk dipasarkan dan dibeli oleh orang Indonesia. Bahkan Indonesia menjadi pasar yang bagus, sangat bagus untuk industry kendaraan bermotor dan televise. Pertanyaannya, mengapa indoensia tidak membuat produksi dalam negeri dan memajukannya? Mengapa lebih senang memberikan keuntungan kepada orang luar negeri? Perusahaan terkemuka dari Jepang seperti Honda dan Yamaha bersuka cita dengan tingginya omset penjualan mereka di Indonesia. Mereka yang nota bene nya termamsuk Negara maju dengan penghasilan perkapita yang tinggi, mengapa memasarkan produknyajustru dinegara miskin seperti Indonesia? Apa nggak salah? Siapa yang salah kalau dijual terus laku. Karena banyaknya permintaan pasar maka pembuatannya pun diperbanyak, bahkan mereka sudah membuat pabrik lisensinya di Indonesia, namun tentu saja keuntungan terbesar tetap diperoleh oleh Negara pembuat kendaraan bermotor tersebut. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, namun kekurangan orang yang mau mengembangkan Negara ini menjadi lebuh baik. Kapan ya, Indonesia bias membuat sendiri kendaraan bermotornya? Dan produksi-produksi lainnya? Kapankah indonesiaku benar benar menjadi nagara yang berdikari, berdiri di atas kaki sendiri dan bangga menjadi anak negeri.

January 29, 2009 - Posted by | Uncategorized

4 Comments »

  1. Tok tok tok
    Assalamu’alaikum….

    Wahhh si ibu semangat banget nulisnya, hehehee…
    Yang penting sikap & sifat Optimisme dari warga negara Indonesia tercinta ini bu, Setiap permulaan itu adalah sulit, tapi segala sesuatu harus dimulai dan semuanya harus kita awali dari diri kita sendiri.

    IMHO Kemajuan, Kedisiplinan, Kemandirian, Ketertiban dan hal-hal positif yang lainnya dari suatu Bangsa, dimulai dari Diri Kita Masing-Masing:mrgreen:

    Ikutan Blog Competition juga ya bu, semangat yaa… Ayo ramaikan dunia blog Indonesia, dan wujudkan citra blogger yang positif

    Nice Post, Keep Share & CU😉
    Wassalam…

    Comment by ãñÐrî ñâwáwï | January 29, 2009 | Reply

    • wa’alaikumsalam wr.wb.
      Thanx a lot 4 u’r motivation. And, thanx 4 inspire me to write. i begin enjoy writing and send what’s on my mind into writen. Let’s make the world better from 2 day. And let’s make blogger 4 positive things.
      Keep on spirit, motivate and do the best we can do 4 our lovely Indonesia.
      Salam blogger Indonesia.

      Comment by nursarifahainy | February 14, 2009 | Reply

  2. tengkoraknaya ngeri deh

    Comment by bisnis internet | February 22, 2009 | Reply

    • tengkorak kan ada di dalam kepala kita semua, kenapa mesti takut?! tengkorak ini yg akan tersisa klu daging kita dh ilang dimakan cacing.
      tengkorak dari masa lalu akan menjadi fosil yg dapat dipelajari oleh manusia masa kini untuk diambil hikmah dan pelajaran berharga untuk membuat hidup yg sedang kita jalani ini lebih bermakna

      Comment by nursarifahainy | February 24, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: