Nursarifahainy’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Nasib guru honorer Indonesia

Guru

Guru

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, kata sebuah peribahasa,… ini memanfaatkan beberapa pihak untuk menyalahtafsirkan artinya. Ada yang mengartikan guru tidak perlu dibayar mahal, toh tanpa tanda jasa,… karena sudah terlanjur salah arti sejak awal, beberapa pihak merasa guru hanya sebagai kuli tak lebih baik dari kuli panggul dipasar atau kuli bangunan yang dapat dihargai dengan harga rendah,.. bahkan kuli bangunan di tempatku mengajar mendapat gaji yang jauh lebih besar dan makanan yang jauh lebih berprotein dibanding guru yang mengajar ditempat itu,..

Miris memang tapi itulah kenyataannya, dan ini menjadi hal yang wajar di banyak sekolah swasta di Indonesia,… Sebenarnya guru tidak menuntut berlebihan hanya ingin hidup layak seperti buruh yang diberikan standar UMR bagi pemerintah. Namun, pencerdas kehidupan bangsa hanya dihargai dengan kesejahteraan di bawah UMR yang ditetapkan pemerintah, kira-kira layakkah??…

KBM Guru dan Murid

KBM Guru dan Murid

Pemerintah saat ini mulai melirik kesejahteraan guru dengan memberikan bantuan tunjangan fungsional kepada banyak guru honorer. Memang sangat positif, namun masih terdapat celah yang memungkinkan beberapa pihak yang mencari kesempatan di tengah kesempitan. Yang perlu diperhatikan pemerintah jangan hanya pada pemberian dananya saja, namun memastikan apakah tepat sasaran atau tidak dengan pihak yang berkepentingan.

Guru honorer juga punya tanggung jawab yang sama dengan guru Negeri, yaitu untuk mencerdaskan anak bangsa, untuk bersama membawa bangsa ini menuju bangsa yang memiliki martabat di mata dunia, sebagai bangsa yang besar. Namun, tanggung jawab yang berat ini hanya dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Pemerintah hanya melihat kepada guru Negeri (PNS), dan mengabaikan guru swasta dan menyerahkan tanggung jawabnya kepada yayasan tempat guru bernaung. Guru hanya tinggal berharap kemurahan hati pemilik yayasan agar memperhatikan nasibnya. Hal yang membuat miris adalah pendidikan yang diperoleh dengan susah payah, namun hanya dihargai begitu rendahnya. Saat seseorang belajar di bangku kuliah atau mengenyam jenjang pendidikan apapun terasa mahalnya biaya yang harus ditanggung, dan begitu mengabdi untuk dunia pendidikan terasa begitu rendahnya penghargaan. Kalau buruh saja punya UMR, guru hanya dihargai kurang dari seorang buruh pabrik,…

Guru hanya bisa berharap orang yang duduk di pemerintahan adalah orang yang peduli dengan nasib pendidikan dan nasib bangsa ini. Semoga ada perubahan ke depan bahwa pemerintah mau berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, juga kesejahteraan pendidiknya.

April 6, 2009 - Posted by | Uncategorized

7 Comments »

  1. miris memang ketika membaca tulisan buguru ainy ini… memang guru tak lebih bagaikan tanpa tanda jasa yang lebih banyak di artikan jasa bisa dibayar atau dengan kata lain loyalitas saja tanpa dipahami berapa nilai loyalitas itu dihargai…..dan tidak melihat brapa biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh ilmu untuk mengajar … dari pihak yayasan juga hanya memandang mungkin bukanlagi sebelah mata tapi hanya sekedarnya saja untuk membayar gaji honorer atau biasa disebut guru bantu.. tanpa melihat sudah dapat berapa rupiah dari muridnya … untuk pihak yayasan.. murid banyak karna gurunya tapi ketika di tanya kemana kesejahteraan itu .. mereka seakan mengartikan guru bantu sebagai hanya untuk membantunya jadi dibayar sesuai dengan namanya BANTU… bukan guru Negeri… ???? seandainya saja 1.000 rupiah persiswa untuk kesejahteraan gurunya jika ada 300 murid x Rp. 1.000,- = 300.000,- ditambah dengan gaji yang selayaknya bukan disebut gaji tapi uang lelah andaikan hanya 150.000 di tambah 300.000 tadi hanya mendapatkan 450.000,- itu juga belum ditambah tambahan lain itu juga tidak setiap bulan paling kurang lebih 500.000 ribu jika diliat dari besarnya uang lelah tersebut dibanding dengan gaji seorang cleaning service yang hanya menggunakan ijazah SMP jauh lebih besar gaji CS tersebut karna standar di jakarta Untuk cleaning service Rp. 750.000,- (IJAZAH SMA) belum ditambah uang tips yang biasa didapat sehari minimal Rp. 10.000,- dan tunjangan dari mingguan dari kantor yang mempekerjakan dia seminggu Rp. 200.000,- jika dijumlah kan menjadi 24 hari kerja x Rp. 10.000,- = 240.000,- + 200.000,-+ Rp. 750.000,- = 1.090.000,- rupiah itu Cleaning service atau Office Boy berijazah SMA .. jika di banding kan dengan gaji guru bantu atau lebih halusnya di sebut honorer ..???????? yang berijazah UNIVERSITAS NEGERI ….. WAJARKAH……, oleh sebab itu banyak guru yang mencari sampingan untuk mendapatkan tambahan dengan mengabaikan muridnya sebagai tujuan didik tapi sebagai tujuan mendapat penghasilan tambahan dari muridnya dengan mengesampingkan pengajarannya… tapi lebih banyak lagi hanya untuk mempertahankan guru yang dinilai baik .. pengajarannya .. pihak yayasan atau pihak yang memperkerjakan gurutersebut lebih mendekatkan kepada psikolog gurunya.. sehingga dari pihak guru enggan atau malu untuk meninggalkan muridnya… tanpa melihat berapa besar gaji yang telah didapatnya seakan berkata “mendekati guru sebagai teman… jadi g perlu melihat gaji yang didapat…??”guru tersebut seakan mengabaikan gaji yang telah didapat… ada juga dari pihak yayasan memberikan gambaran atau angan2 kepada guru tersebut bahwa begini begitu nanti sekolah ini …. sehingga guru tersebut bertahan di sekolah tersebut… seandainya … dengan ilmu yang didapat dicoba mencari kerjaanlain mungkin lebih baik gajinya.. kalau kata kasarnya ijazah Sarjana kalah dengan Ijazxah SMP atau SMK … jika diliat dari materi…., memang jika diliat dari guru wanita lebih tidak begitu berpengaruh tetapi buat guru pria.. yang memiliki tanggungan lebih… sulit dikatakan .. jika tidak pintar2 mencari tambahan lain….// UMAR BAKRI memang guru disebutnya… terutama buat guru bantu karna untuk GURU NEGERI jauh kesejahteraannya…

    bantu… atau honorer… satu kata beda arti…

    jika tenaga bantu di pihak swasta lebih dikenal dengan tenaga Outsoursing.. hehe he he he gaji nya tapi sama dengan Tenaga TETAP.. bedanya hanya….. tidak adanya tunjangan.. yangbiasa didapat Tenaga TETAP…, itulah GURU sehingga banyak kejadian yang di alami murid…..

    SELAMAT BERJUANG BUGURU AINY.. SEMOGA AMAL YANG BU AINY DAPAT DARI MENGAJAR LEBIH DARI MATERI YANG BU GURU AINY DAPATKAN…. asalkan jangan pernah menggerutu berkata materi dalam hati.. iklas dalam mengajar… iklas karna ibadah mengamalkan ilmu… dan ingat guru penuh dengan amanat.. LEBIH BESAR BEBAN AGAMA DIBANDING BEKERJA DI TEMPAT BUKAN GURU… karna JIKA KITA MELALAIKAN PENGAJARAN 1 AMANAT TELAH KITA ABAIKAN DAN DOSA TELAH MENANTI KITA…. AMANAT ORANG TUA YANG MEMINTA ANAKNYA UNTUK DIDIK… lebih besar… AMAL dan lebih besar juga langgaran agama … tergantung bagaimana menyampaikan dan keiklasannya dalam mengajar…

    ingAT IBADAH TIDAK PERNAH MELIHAT MATERI… tapi apa yang didapat dikemudian hari… Insya Allah rizky bukan didapat dimana kita mengajar tapi rizky datangnya dari Allah semata…. amien…

    Comment by Aank | April 24, 2009 | Reply

    • makasi Aank atas coment nya yang begitu lengkap dan mengena banget. kok Aank tau banyak ttg guru seech? mang dari keluarga guru juga yach? ato Aank sendiri seorang guru?
      yups, memang nasib guru dilihat dari segi materi memang miris karena di bawah level UMR, but mungkin yang kata orang disebut ‘berkah’ memang ada benarnya juga. walau di bawah UMR, but insyaallah cukup untuk kebutuhan hidup. saat membutuhkan dana tambahan untuk suatu keperluan, dan hati hanya bisa menjerit pada-Nya dan memang rezeki itu bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka. saat butuh, ada aja rezeki yang datang, alhamdulillah.
      mengajar hanya sarana saya untuk bisa belajar lebih banyak tentang hidup dari anak2 dan teman2; sebagai sarana mengembangkan keilmuan dan transfer pengetahuan, semoga kelak bisa berguna. klu masalah gaji dibawah UMR gak perlu risau, bukankah bumi Allah itu luas? yang penting berkeyakinan bahwa Allah lah segala sumber dari rezeki dan segala kebaikan yang kita dapat dan rasakan. Allah yang menciptakan kita pastinya sangat tahu dan memahami apa saja yang dibutuhkan makhluknya, dan Ia pula lah yang akan mencukupinya.

      Comment by nursarifahainy | May 3, 2009 | Reply

  2. Wew, bahkan pencipta lagu hymne guru yang dibangga-banggakan itu pun berstatus guru honorer.

    Miris banget, gak habis pikir gw.😦

    http://koetaradja.wordpress.com

    Comment by koetaradja | May 20, 2009 | Reply

  3. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, kata sebuah peribahasa,… ini memanfaatkan beberapa pihak untuk menyalahtafsirkan artinya. Ada yang mengartikan guru tidak perlu dibayar mahal, toh tanpa tanda jasa,… BUKAN UNTUK GURU PNS TAPI HANYA KAMI GURU HONORER SWASTA.

    Comment by andi hermawan | December 21, 2009 | Reply

    • yang sering terjadi untuk guru swasta memang demikian. pihak yayasan kurang menghargai pekerjaan guru sebagai suatu ‘profesi’ yang untuk menjadi seorang guru butuh sekolah dengan biaya ang tidak sedikit. namun, sayang pihak yayasan masih memandang guru tak lebih dari setara seorang buruh (bahkan buruh digaji lebih besar dari guru!!!).
      bagaimana bangsa Indonesia mau maju jika bangsa ini tidak menghargai jasa guru?!

      Comment by nursarifahainy | December 26, 2009 | Reply

  4. WAHAI PARA PEMBACA JANGAN HANYA KOMENTAR KALO TIDAK BERNASIB SAMA SEPERTI GURU HONOR. BUANG DARI OTAK MU GURU KESEJAHTERAANNYA BAGUS. ITU HANYA PROPAGANDA PEMERINTAH. BUKTINYA GURU HONORER GAK PERNAH DIAKUI. CAPEK DENGAN TULISAN YANG SEDIH. HIDUP NYA GURU HONORER DI DUNIA MERANA TAPI KAMILAH PENGHUNI SURGA YANG ABADI

    Comment by andi hermawan | December 21, 2009 | Reply

  5. Yang mengajar tahun 2005 wajib diangkat jadi PNS, (Guru Honorer depok bahkan jauh sebelum tahun 2005 sudah mengajar jumlahnya 320 org) dilengkapi dengan regulasi PP 48/2005 jo PP 43/2007 jo PP 56 2012, Dokumen Honorer sudah lengkapi sarat dan ketentuan, tapi administrasi DPA, SPM dan SPJ “ada” tapi tidak lengkap dikarenakan OPD pengguna anggaran lalai sejak tahun 2005 lalu, ini berarti Pemda pemberi kuasa APBD dan Disidk sebagai Pengguna Anggaran honorarium Guru Honorer harus bertanggung jawab, jangan Honorer yang dikorbankan. Setelah didesak akhirnya DPA itu ada tapi kembali lagi, BKD dan disdik pura pura tdiak tahu atau memang tidak tahu, administrai lengkap itu seperti apa, Honorer akan menggugat jika ini tidak terealisasi.

    Comment by Pemda Hanya Butuh CPNS Reguler, Honorer dibuang | November 5, 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: